Skip to content

Survey study, 2026

Does eating junk food increase premenstrual syndrome severity in school girls?

Girls who frequently ate junk food were much more likely to have moderate PMS symptoms (95.1%) compared to those who rarely ate it (60.0%). The relationship was clear.

Early or limited evidence 112 school girls at one school in Bogor District, Indonesia

What they did

A survey of 112 school girls in Bogor, Indonesia, selected through stratified random sampling. The girls completed questionnaires about how often they ate junk food and their premenstrual symptoms.

What they found

91.1% of the girls frequently consumed junk food. Most girls (92.0%) experienced moderate PMS symptoms, while 8.0% experienced mild symptoms. Girls who frequently ate junk food had 95.1% experiencing moderate PMS, compared to 60.0% of girls who rarely ate junk food.

What it means for you

Eating less junk food might help reduce PMS symptoms in teenage girls. However, this study cannot prove that diet causes PMS, only that they are linked. The findings are from one school in Indonesia and may not apply to girls in other places.

91.1%

Girls who frequently ate junk food

92.0%

With moderate PMS symptoms

95.1%

Moderate PMS in frequent eaters

About the study

Original title
Hubungan Konsumsi Junk Food dengan Tingkat Keparahan Gejala Sindrom Pramenstruasi (PMS) Pada Siswi SMPN 3 Parung Panjang Kabupaten Bogor Tahun 2025
Authors
Thesya Eka Putri Nasution, Illa Arinta, Rina Wijayanti
Journal
Jurnal Pendidikan Tambusai
Year
2026
Study design
Survey study
Open access
Yes
Original abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi junk food dengan tingkat keparahan gejala sindrom pramenstruasi (Premenstrual Syndrome/PMS) pada siswi SMPN 3 Parung Panjang Kabupaten Bogor tahun 2025. PMS merupakan kondisi klinis berupa gejala fisik, emosional, dan psikologis yang muncul pada fase luteal dan berdampak pada kualitas hidup remaja. Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan desain analitik korelasional pada 112 responden yang dipilih melalui teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan kuesioner shortened Premenstrual Assessment Form (sPAF). Hasil analisis univariat menunjukkan mayoritas siswi (91,1%) berada dalam kategori sering mengonsumsi junk food. Terkait tingkat keparahan PMS, sebagian besar responden mengalami gejala kategori sedang (92,0%) dan sisanya kategori ringan (8,0%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji Fisher's Exact Test menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi junk food dengan tingkat keparahan gejala PMS dengan nilai p-value = 0,003 (α < 0,05). Siswi yang sering mengonsumsi junk food memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami PMS kategori sedang (95,1%) dibandingkan siswi yang jarang mengonsumsinya (60,0%). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi junk food dengan tingkat keparahan gejala PMS, sehingga edukasi gizi mengenai pola makan sehat sangat diperlukan di lingkungan sekolah guna menjaga kesehatan reproduksi remaja.

Reproduced under CC-BY-SA.

Topics