Case-control study, 2023
Does diet and stress affect premenstrual syndrome symptoms?
Yes. Energy intake, certain types of fat, vitamin B6, calcium, magnesium, and psychological stress were linked to PMS symptoms. Protein and carbohydrate were not.
What they did
56 university students aged 18-22 in Indonesia were separated into two groups: 28 with PMS and 28 without. Researchers compared their food intake and psychological stress levels.
What they found
Energy, fat, vitamin B6, calcium, and magnesium intake were linked to PMS. Psychological stress was also linked to PMS. Protein and carbohydrate intake were not linked to PMS.
What it means for you
Diet and stress may play a role in PMS in this population. This was an observational study that compared groups but cannot prove that changing diet or stress will reduce symptoms.
28
With PMS
28
Without PMS
56
Total participants
About the study
- Original title
- Hubungan Tingkat Konsumsi Zat Gizi dan Tingkat Stres Psikologis dengan Kejadian Premenstrual Syndrome Pada Mahasiswi Indekos Usia 18–22 Tahun di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
- Authors
- Aurelia Dhea Fradista
- Journal
- Media Gizi Kesmas
- Year
- 2023
- Study design
- Case-control study
- Open access
- Yes
- Read the paper
- doi.org/10.20473/mgk.v12i1.2023.94-103
Original abstract
Latar belakang: Premenstrual Syndrome merupakan kumpulan gejala menstruasi yang timbul sebelum dan saat menstruasi terjadi. Faktor yang dapat mempengaruhi gejala premenstrual syndrome adalah tingkat konsumsi zat gizi dan tingkat stres psikologis. Tingkat konsumsi zat gizi dan stres psikologis yang berbeda antar individu dapat mengakibatkan adanya perbedaan gejala premenstrual syndrome yang dirasakan. Tujuan: Menganalisis hubungan antara tingkat konsumsi zat gizi dan tingkat stres psikologis dengan premenstrual syndrome pada mahasiswi indekos di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain case control. Sampel terdiri dari 28 mahasiswi dengan premenstrual syndrome dan 28 mahasiswi yang tidak mengalami premenstrual syndrome. Variabel bebas terdiri dari tingkat konsumsi zat gizi dan tingkat stres psikologis. Variabel terikat adalah Premenstrual Syndrome (PMS). Analisis data yang digunakan meliputi uji Chi-Square, Fisher Exact, dan Regresi Logistik. Hasil: Hasil uji analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi energi (p=0,027; OR=3,111), lemak (p=0,026; OR=0,175), vitamin B6 (p=0,035; OR=6,668), kalsium (p=0,029; OR=0,134), magnesium (p=0,048; OR=9,155), dan tingkat stres psikologis (p=0,000; OR=0,041) dengan kejadian Premenstrual Syndrome (PMS). Sebaliknya, tidak ada hubungan antara tingkat konsumsi protein (p=0,589; OR=0,249) dan tingkat konsumsi karbohidrat (p=0,252; OR=0,938) dengan kejadian premenstrual syndrome. Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah tingkat konsumsi energi, lemak, vitamin B6, kalsium, magnesium, dan tingkat stres psikologis dapat mempengaruhi gejala yang ditimbulkan oleh premenstrual syndrome. Saran untuk mahasiswi, sebaiknya melakukan pengaturan pola konsumsi sesuai dengan pedoman gizi seimbang
Reproduced under CC-BY-SA.
Topics
Related studies
Survey study, 2025
Do certain nutrients and body weight affect PMS?
Case-control study, 2022
Are zinc and antioxidant levels different in women with PMS?
Study, 1998
Does diet and supplements help PMS?
Non-randomised trial, 2019
Does eating avocado reduce PMS symptoms?
Cohort study, 2014
Do lifestyle and nutrition affect menstrual symptoms?
Systematic review, 2025
Do nutritional interventions help with emotional symptoms of PMS?